Kolom

Kolom, Opini Pakar

Langgar Integritas Rusak Negara: Pertarungan Politik Besar Bisa Terjadi

Putusan lembaga peradilan yang menyatakan bahwa salah satu dokumen persyaratan yang digunakan oleh seorang Pimpinan Negara untuk memenuhi persyaratan pencalonannya tidak sah, dalam skenario ini, berpotensi menjadi titik awal perubahan besar dalam medan pertarungan politik Indonesia. Persoalannya tidak lagi semata-mata menyangkut benar atau salahnya sebuah dokumen administratif. Persoalan tersebut dapat berkembang menjadi pertanyaan yang jauh lebih mendasar, yaitu apakah seseorang yang tidak memenuhi persyaratan konstitusional ketika mencalonkan diri masih mempunyai legitimasi untuk menduduki jabatan publik yang diperolehnya melalui pemilihan umum. Di sinilah persoalan hukum mulai bersentuhan langsung dengan persoalan legitimasi kekuasaan. Situasi menjadi semakin kompleks apabila pihak yang bersangkutan memilih

The post Langgar Integritas Rusak Negara: Pertarungan Politik Besar Bisa Terjadi appeared first on Langgam.id.

Kolom, Opini

Refleksi Seabad INS Kayutanam:Solusi Mendidik Generasi Cemas?

Tulisan Willy Aditya di Ruang.id mengenai refleksinya atas seabad INS Kayutanam bukan sekadar nostalgia. Tulisan itu adalah teguran. Di tengah euforia digital, kita diingatkan bahwa satu abad yang lalu, jauh sebelum republik ini berdiri, lahir sebuah eksperimen pendidikan dari sebuah desa bernama Kayutanam di pelosok Sumatera Barat. INS adalah sebuah eksperimen yang sejak awal menolak menjadikan manusia sekadar angka di atas kertas atau objek yang pasif menerima pengajaran. Seorang pendidik bernama Mohammad Sjafei yang berasal dari Kalimantan datang ke Ranah Minang dengan mimpi besar, mendirikan INS dengan keyakinan bahwa pendidikan harus mempertemukan manusia dengan kehidupan nyata: kerja tangan, seni, alam,

The post Refleksi Seabad INS Kayutanam:Solusi Mendidik Generasi Cemas? appeared first on Langgam.id.

Kolom, Opini Pakar

Kemelekatan Budaya dan Peradaban Minangkabau

Persoalan tanah ulayat dalam pembangunan jalan tol telah menimbulkan perdebatan karena tanah bukan sekadar aset ekonomi, melainkan juga warisan dan identitas antargenerasi. Demikian pula, wacana penggantian nama Bandara Internasional Minangkabau menjadi Bandara Syekh Burhanuddin memunculkan keinginan sebagian masyarakat untuk mempertahankan nama Minangkabau. Kedua fenomena ini dapat menunjukkan kuatnya ikatan masyarakat dengan identitas budayanya. Namun, ada pertanyaan mendasar: apakah keinginan mempertahankan simbol budaya juga diikuti kemampuan menghidupkan nilai-nilainya? Kita begitu peduli terhadap tanah ulayat, tetapi apakah sumber daya yang tersedia telah dimanfaatkan secara optimal untuk kesejahteraan masyarakat? Kita bangga menjadi orang Minangkabau, tetapi sejauh mana generasi milenial dan Z memahami nilai-nilai

The post Kemelekatan Budaya dan Peradaban Minangkabau appeared first on Langgam.id.

Kolom, Opini Pakar

Mobil Listrik Indonesia Berawal Maunya Menjadi Pembuat, Jadinya Pengimpor

Ini dituliskan sebagai refleksi dari sudut pandang seorang peneliti dan pengembang teknologi di bidang energi, sekaligus sebagai seseorang yang setiap hari berhadapan dengan generasi muda yang diharapkan kelak menjadi penggerak kemajuan teknologi bangsa. Pengalaman dalam dunia penelitian memberikan satu kenyataan yang harus diakui, yaitu peneliti Indonesia masih bekerja dengan berbagai keterbatasan fasilitas, pendanaan, dan infrastruktur penelitian. Namun, keterbatasan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berkarya. Kemandirian teknologi bangsa hanya mungkin diwujudkan apabila ada keberanian untuk memulai, mencoba, mengembangkan, dan menyempurnakan teknologi sendiri. Ketika pemerintah mencanangkan program mobil listrik nasional, gagasan tersebut sesungguhnya merupakan langkah strategis yang patut didukung. Indonesia

The post Mobil Listrik Indonesia Berawal Maunya Menjadi Pembuat, Jadinya Pengimpor appeared first on Langgam.id.

Kolom, Opini Pakar

Menguji Daya Tahan Kaum Muda

Ketika kaum muda menjadi kelompok dominan dalam struktur penduduk Indonesia, sejauh mana mereka menentukan wajah negeri ini? Bagaimana mereka menyikapi berbagai persoalan bangsa? Akankah respons tersebut melahirkan inovasi dan perubahan, atau justru bermuara pada frustrasi dan kehilangan motivasi? Pertanyaan-pertanyaan ini semakin penting di peringatan Sumpah Pemuda tahun ini. Kita berbicara tentang kaum muda: generasi milenial dan generasi Z yang mendekati 60 persen penduduk Indonesia. Dengan jumlah sebesar itu, kaum muda semestinya menjadi kekuatan penentu arah perubahan bangsa. Namun, yang terlihat belakangan justru kegelisahan, pesimisme, bahkan skeptisisme terhadap berbagai kebijakan pemerintah. Di media sosial, misalnya, kaum muda yang sudah terhubung dengan

The post Menguji Daya Tahan Kaum Muda appeared first on Langgam.id.

Kolom, Opini Pakar

Negara Berideologi, Dengan atau Tanpa Demokrasi Harus Mensejahterakan Rakyat

Dunia tidak kekurangan ideologi, partai politik, atau sistem pergantian pemimpin. Yang masih menjadi persoalan adalah bagaimana memastikan kekuasaan benar-benar menghasilkan kesejahteraan, bukan sekadar menjadi arena perebutan jabatan, kekayaan, dan pengaruh. Dunia Pernah Terbelah oleh Pertarungan Ideologi Sejarah politik dunia memperlihatkan bahwa perjalanan banyak negara pernah diwarnai pertarungan panjang mengenai ideologi yang harus menjadi dasar penyelenggaraan negara. Kapitalisme, sosialisme, dan komunisme menjadi tiga arus pemikiran besar yang memengaruhi arah politik, ekonomi, dan hubungan antarbangsa. Para pemimpin dan kelompok politik berjuang untuk membuktikan bahwa ideologi yang mereka yakini merupakan jalan terbaik bagi masyarakat. Pertarungan tersebut tidak hanya berlangsung dalam perdebatan pemikiran, tetapi

The post Negara Berideologi, Dengan atau Tanpa Demokrasi Harus Mensejahterakan Rakyat appeared first on Langgam.id.

Kolom, Opini Pakar

Hutan Luas Dibakar atau Terbakar, Asap Meracuni Kehidupan, Senang Hati Pengambil Manfaat

Kebakaran hutan merupakan proses pembakaran bahan organik yang dapat berkembang dari nyala api kecil menjadi bencana ekologis berskala luas. Prosesnya dapat dimulai dari terbakarnya atau dibakarnya biomassa kering yang berada di permukaan lahan, seperti daun-daun gugur, ranting, rumput kering, semak belukar, dan sisa tumbuhan lainnya. Biomassa tersebut mengandung energi kimia yang tersimpan dalam senyawa organik. Ketika memperoleh panas yang cukup dari sumber penyalaan, bahan organik mengalami pemanasan, melepaskan uap dan senyawa volatil, kemudian dapat menyala apabila kondisi pembakaran mendukung. Api yang terbentuk selanjutnya memindahkan panas ke biomassa di sekitarnya, sehingga bahan bakar baru ikut mengalami pemanasan dan pembakaran. Proses berantai

The post Hutan Luas Dibakar atau Terbakar, Asap Meracuni Kehidupan, Senang Hati Pengambil Manfaat appeared first on Langgam.id.

Kolom, Opini

Bank Tanah vs UU Pengaturan Reforma Agraria

(Catatan Kritis atas Kedudukan, Kewenangan, dan Masa Depan Reforma Agraria di Indonesia) Dalam kacamata pemerintah, Bank Tanah dibentuk untuk mengelola dan mendistribusikan tanah bagi berbagai kepentingan masyarakat. Persoalannya, negara pada saat yang sama juga membentuk kerangka hukum baru melalui Undang-Undang Pengaturan Reforma Agraria. Maka muncul pertanyaan mendasar: apakah Bank Tanah merupakan instrumen pelaksana Reforma Agraria, atau justru berpotensi mengambil sebagian kewenangan strategis Reforma Agraria? Pertanyaan ini penting karena reforma agraria bukan semata-mata soal penyediaan tanah. Reforma agraria adalah upaya mengubah struktur penguasaan lahan yang timpang, menyelesaikan konflik agraria, dan memastikan tanah diredistribusikan kepada masyarakat yang kehilangan akses atasnya. Karena itu,

The post Bank Tanah vs UU Pengaturan Reforma Agraria appeared first on Langgam.id.

Kolom, Opini Pakar

Negeri yang Diisi Kepalsuan Dilindungi Kepalsuan

Ada suatu keadaan ketika manusia tidak lagi mempertahankan kebenaran karena meyakini kebenaran itu, melainkan mempertahankan kepalsuan karena kehilangan kemampuan untuk hidup tanpa kepalsuan tersebut. Pada tahap ini, kebohongan tidak lagi sekadar menjadi alat untuk menyembunyikan kenyataan. Kebohongan berubah menjadi fondasi bagi kebohongan berikutnya. Satu kepalsuan melahirkan kepalsuan lain, bukan karena semuanya telah direncanakan sejak awal, melainkan karena setiap kepalsuan membutuhkan perlindungan agar kepalsuan sebelumnya tidak terbongkar. Inilah logika keputusasaan kepalsuan dilindungi kepalsuan, sebuah keadaan ketika jalan keluar dari kebohongan justru dipandang lebih berbahaya daripada mempertahankan kebohongan itu sendiri. Kepalsuan pada dasarnya memiliki kelemahan mendasar. Ia tidak mempunyai kekuatan untuk berdiri

The post Negeri yang Diisi Kepalsuan Dilindungi Kepalsuan appeared first on Langgam.id.

Kolom, Opini Pakar

Adat yang Dilucuti, Hutan yang Hanyut

Akhir November 2025, kayu gelondongan menumpuk di Danau Singkarak, di Nagari Muaro Pingai, Kabupaten Solok. Kayu itu terbawa banjir bandang yang melanda Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. Rangkaian bencana tersebut menewaskan lebih dari seribu orang. Gelondongan itu menjadi saksi bisu bahwa hutan di hulu tidak lagi terjaga. Data Kementerian Kehutanan menunjukkan deforestasi di Sumatera Barat melonjak dari 774 hektare menjadi 5.705 hektare pada periode 2024–2025. WALHI mengaitkan hilangnya 1,4 juta hektare hutan di tiga provinsi itu sepanjang 2016–2025 dengan aktivitas 631 perusahaan pemegang konsesi. Tutupan hutan alam di sebagian besar daerah aliran sungai di Sumatera kini tersisa kurang dari

The post Adat yang Dilucuti, Hutan yang Hanyut appeared first on Langgam.id.

Scroll to Top