Author name: Syafruddin Karimi

Kolom, Opini Pakar

Kapitalisme Londo Ireng

Istilah londo ireng pernah lahir dari pengalaman kolonial: pribumi yang membantu kekuasaan asing menundukkan bangsanya sendiri. Ia bukan sekadar ejekan warna kulit atau asal-usul, melainkan simbol pengkhianatan sosial. Dalam ekonomi modern, sosok itu tidak selalu mengenakan seragam kolonial. Ia bisa tampil sebagai pejabat, pengusaha, komisaris, konsultan, atau elite politik yang berbicara atas nama kepentingan nasional, tetapi bekerja untuk memperbesar kekuasaan modal dan mempersempit ruang hidup rakyat. Dari sinilah istilah kapitalisme londo ireng menemukan maknanya. Kapitalisme londo ireng muncul ketika elite domestik bertindak sebagai perantara antara kekuasaan politik dan akumulasi kekayaan. Mereka menguasai izin, konsesi, kredit, proyek, data, serta akses terhadap

The post Kapitalisme Londo Ireng appeared first on Langgam.id.

Kolom, Opini Pakar

Harga Ketidakpastian Ruang Kebijakan Moneter

Pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia bukan sekadar pergantian pejabat. Peristiwa ini muncul ketika rupiah bergerak di sekitar Rp18.000 per dolar AS, BI-Rate telah mencapai 5,75%, yield SBN masih tinggi, dan pasar sedang menilai ulang risiko Indonesia. Karena itu, pasar tidak hanya bertanya siapa yang akan memimpin BI, tetapi juga apakah arah kebijakan moneter tetap konsisten, independen, dan berbasis data. Respons intraday pada 27 Juli 2026 memberi pesan yang cukup jelas. IHSG berakhir naik tipis sekitar 0,09% dari posisi awal, sedangkan rupiah melemah sekitar 0,31% hingga Rp18.005 per dolar AS. Perbedaan arah ini menunjukkan bahwa pasar saham mampu

The post Harga Ketidakpastian Ruang Kebijakan Moneter appeared first on Langgam.id.

Kolom, Opini Pakar

Ekspor Satu Pintu

Kebijakan ekspor satu pintu dapat menjadi instrumen penting untuk memperkuat pengawasan perdagangan, menjaga devisa, dan meningkatkan posisi tawar Indonesia. Gagasan ini muncul saat pemerintah menilai terdapat kebocoran melalui under-invoicing, laporan tidak benar, penyalahgunaan transfer pricing, dan penyelundupan. Negara ingin memastikan bahwa volume, harga, pembeli, pembayaran, pajak, royalti, dan devisa hasil ekspor dapat ditelusuri secara utuh. Tujuan tersebut layak didukung. Persoalannya terletak pada desain. Kebijakan satu pintu dapat berarti sistem data terpadu, persetujuan ekspor terpusat, badan pemasaran bersama, atau penetapan satu BUMN sebagai eksportir tunggal. Setiap model menghasilkan konsekuensi berbeda. Sistem data terpadu memperkuat transparansi tanpa menghapus peran perusahaan. Eksportir tunggal

The post Ekspor Satu Pintu appeared first on Langgam.id.

Kolom, Opini Pakar

PFII dan Ilusi Jalan Pintas

Pemerintah menempatkan Pusat Finansial Internasional Indonesia atau PFII sebagai motor baru pertumbuhan ekonomi. Narasi ini terdengar ambisius dan menggoda. Indonesia ingin masuk ke peta pusat keuangan global, bersaing dengan Singapura, Hong Kong, dan Dubai. Pertanyaannya tetap mendasar: apakah persoalan utama Indonesia selama ini benar-benar ketiadaan pusat finansial internasional? Atau masalahnya justru terletak pada kepastian hukum yang lemah, birokrasi mahal, regulasi berubah-ubah, dan kualitas institusi yang belum konsisten secara nasional? PFII lahir dari logika yang mudah dipahami. Indonesia membutuhkan pembiayaan besar untuk infrastruktur, transisi energi, pangan, perumahan, hilirisasi, dan ekonomi digital. APBN tidak mampu menanggung seluruh kebutuhan itu. Perbankan juga memiliki

The post PFII dan Ilusi Jalan Pintas appeared first on Langgam.id.

Kolom, Opini Pakar

Pelemahan Momentum Ekonomi

Ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 masih tumbuh kuat secara tahunan, tetapi kehilangan akselerasi secara kuartalan. Data terbaru menunjukkan Produk Domestik Bruto tumbuh 5,61 persen y-on-y pada triwulan I-2026, sedangkan secara q-to-q terkontraksi -0,77 persen. Angka tahunan memberi kesan ekonomi tetap solid, tetapi kontraksi kuartalan memberi pesan lebih penting bagi pengambil kebijakan: mesin ekonomi tidak berhenti, tetapi tenaganya melemah. Karena itu, pemerintah dan Bank Indonesia perlu membaca struktur pertumbuhan secara hati-hati, bukan hanya merayakan angka tahunan. Struktur data lapangan usaha memperlihatkan pelemahan momentum tidak merata. Beberapa sektor masih tumbuh tinggi secara tahunan. Penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 13,14 persen y-on-y,

The post Pelemahan Momentum Ekonomi appeared first on Langgam.id.

Kolom, Opini Pakar

Anatomi Utang

Utang tidak pernah berdiri sebagai angka mati dalam neraca negara. Utang selalu lahir dari hubungan antara kebutuhan pembangunan, keterbatasan penerimaan, defisit perdagangan, kesenjangan tabungan, dan kepercayaan pasar. Karena itu, debat publik tentang utang tidak boleh berhenti pada pertanyaan apakah negara boleh berutang atau tidak. Pertanyaan yang lebih penting ialah: untuk apa negara berutang, dari mana sumber pembayarannya, bagaimana struktur risikonya, dan apakah utang itu memperbesar kapasitas ekonomi masa depan. Anatomi utang dimulai dari celah pembiayaan. Ketika impor melebihi ekspor, negara membutuhkan devisa tambahan. Ketika belanja negara lebih besar daripada penerimaan pajak, pemerintah membutuhkan pembiayaan. Ketika investasi nasional melampaui tabungan domestik,

The post Anatomi Utang appeared first on Langgam.id.

Kolom, Opini Pakar

Apakah Kenaikan BI Rate Akan Menurunkan Risk Premium?

Kenaikan BI Rate sering dipahami sebagai langkah cepat untuk menahan pelemahan Rupiah. Pemahaman itu benar, tetapi belum lengkap. Dalam situasi pasar yang sedang kehilangan kepercayaan, pertanyaan paling penting bukan hanya apakah BI Rate mampu memperkuat Rupiah hari ini. Pertanyaan yang lebih mendasar ialah apakah kenaikan BI Rate mampu menurunkan risk premium Indonesia. Jawabannya tidak sederhana. BI Rate dapat menurunkan risk premium jika pasar membaca kenaikan suku bunga sebagai bagian dari perubahan kebijakan yang kredibel, konsisten, dan terkoordinasi. BI Rate tidak akan cukup jika pasar melihat kenaikan itu hanya sebagai respons darurat terhadap pelemahan Rupiah, sementara masalah fiskal, subsidi, belanja populis,

The post Apakah Kenaikan BI Rate Akan Menurunkan Risk Premium? appeared first on Langgam.id.

Kolom, Opini Pakar

Rupiah Sebagai Barometer Makroekonomi

Rupiah tidak sekadar mata uang. Rupiah mencerminkan cara pasar membaca kekuatan ekonomi Indonesia. Ketika rupiah stabil, pelaku pasar melihat ekonomi nasional memiliki daya tahan, kebijakan yang kredibel, dan prospek pertumbuhan yang terjaga. Ketika rupiah melemah tajam, pasar segera menilai ulang risiko Indonesia. Karena itu, rupiah harus kita tempatkan sebagai barometer makroekonomi, bukan hanya sebagai angka harian di papan kurs. Data terbaru memperkuat pesan tersebut. Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi 5,61 persen secara tahunan pada Triwulan I-2026. Angka ini menunjukkan bahwa mesin ekonomi masih bekerja. Inflasi April 2026 juga berada pada 2,42 persen secara tahunan, masih dalam rentang sasaran Bank Indonesia. Di

The post Rupiah Sebagai Barometer Makroekonomi appeared first on Langgam.id.

Scroll to Top