Author name: Abdullah Khusairi

Kolom, Opini Pakar

[POLA] Londo Ireng dan Fatsoen Politik

Bahasa merupakan cermin watak seorang pemimpin. Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moral yang melekat pada setiap kata yang diucapkannya. Apalagi seorang presiden, pemegang kekuasaan pemerintahan, simbol persatuan bangsa. Ucapannya membentuk persepsi publik, memengaruhi kualitas demokrasi, bahkan menentukan arah budaya politik sebuah negara. Karena itu, setiap pernyataan yang keluar dari seorang kepala negara semestinya lahir dari pertimbangan etika, kepatutan, dan kebijaksanaan. Pernyataan dalam pidato resmi menyebut istilah Londo Ireng di hadapan para jurnalis menambah daftar ungkapan kontroversial yang pernah disampaikan kepada publik. Sebelumnya, masyarakat juga mendengar ungkapan seperti “nyenyenye” maupun pernyataan bahwa pihak yang merasa berat menjalani

The post Londo Ireng dan Fatsoen Politik appeared first on Langgam.id.

Kolom, Opini Pakar

[POLA] Rumah Baru bagi Marwah Ulama Indonesia

Ke mana umat harus berpaling ketika otoritas ulama institusional terfragmentasi oleh syahwat politik? Pertanyaan itulah yang dilontarkan Tuanku Taufik dalam tulisannya Berislam tanpa MUI (langgam.id). Jawaban yang ia tawarkan pun tegas: memindahkan kiblat pencarian ilmu dan agama kembali ke rahim kultural surau, sambil mendengarkan suara para “ulama sunyi” yang memilih jalan dakwah jauh dari hiruk-pikuk kekuasaan. Gagasan itu lahir dari pembacaan kritis atas dinamika Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat beserta relasinya dengan sejumlah organisasi Islam. Di mata Tuanku Taufik, kontestasi kelembagaan telah menggerus kewibawaan moral ulama. Karena itu, ia menawarkan pergeseran kiblat otoritas: dari legitimasi organisasi menuju otoritas kultural

The post Rumah Baru bagi Marwah Ulama Indonesia appeared first on Langgam.id.

Kolom, Opini Pakar

[POLA] Krisis Komunikasi Politik Era Algoritma

Suatu masa, pidato politik berdiri sebagai panggung utama kekuasaan. Surat kabar memuatnya di halaman depan, radio menyiarkannya secara langsung, dan televisi menghadirkannya ke ruang keluarga. Publik menunggu pidato para pemimpin dunia dengan penuh perhatian karena setiap kata mengandung arah kebijakan, sinyal politik, dan gambaran masa depan sebuah bangsa. Pidato menjadi arena pertarungan gagasan sekaligus instrumen pembentuk legitimasi. Sejarah mencatat, satu pidato mampu menggerakkan massa, membangun imajinasi kolektif, dan mengubah perjalanan negara. Itu dulu. Revolusi digital mengubah lanskap tersebut secara mendasar. Perkembangan teknologi informasi membawa pidato memasuki ruang digital yang bergerak cepat dan dipengaruhi algoritma. Kini, pidato politik menjadi konten dalam

The post Krisis Komunikasi Politik Era Algoritma appeared first on Langgam.id.

Scroll to Top