[POLA] Mobil Listrik China Makin Merajalela di ASEAN
Kawasan Asia Tenggara menjadi salah satu tujuan utama ekspor mobil listrik China, seiring meningkatnya permintaan kendaraan listrik di sejumlah negara ASEAN.
Kawasan Asia Tenggara menjadi salah satu tujuan utama ekspor mobil listrik China, seiring meningkatnya permintaan kendaraan listrik di sejumlah negara ASEAN.
Keberadaan dashboard camera atau dashcam kini semakin mendapat perhatian, bukan hanya dari pemilik mobil tetapi juga aparat penegak hukum termasuk Korlantas Polri.
Cat motor yang mulai kusam sering menjadi masalah yang dialami pemilik kendaraan, terutama bagi motor yang setiap hari digunakan untuk beraktivitas. Paparan matahari.
Turunnya harga minyak belum sepenuhnya diikuti oleh harga bahan bakar minyak (BBM) di Amerika Serikat, sehingga memicu protes dari Presiden Donald Trump.
Persaingan teknologi pengisian daya cepat mobil listrik semakin menarik. Shell memperkenalkan konsep kendaraan listrik yang bisa mengisi daya kurang dari 10 menit.
Station wagon pernah menjadi salah satu pilihan utama di jenis mobil keluarga, terutama di Eropa, dengan kabin lega dan bagasi yang lebih besar dibanding sedan.
Nasib merek mobil Eropa di Indonesia belum banyak berubah dalam hampir satu dekade terakhir. Di tengah gempuran merek Jepang dan China, penjualan mobil itu bertahan.
Lepas E4 dibekali motor listrik bertenaga 215 hp dengan torsi maksimum 275 Nm. Tenaganya disuplai baterai berkapasitas 65,05 kWh yang bisa tempuh 500 km.
Persaingan merek mobil asal China di Indonesia berubah drastis dalam dua tahun terakhir. Jika sebelumnya Wuling menjadi pemain yang hampir tanpa pesaing.
Industri otomotif Indonesia masih menghadapi tantangan pada 2026. Penjualan mobil nasional belum kembali ke level sebelum pandemi, sementara daya beli masyarakat.